Showing posts with label cerita. Show all posts
Showing posts with label cerita. Show all posts

Saturday, January 5, 2013

Komunikasi di Tempat Kerja

Suatu ketika aku mengalami salah komunikasi. Jadi saat itu aku masih berstatus karyawan baru di suatu instansi. Inginnya sh sebagai orang baru aku bisa cepat beradaptasi dan akrab dengan senior. Alhasil aku seringkali menyapa dengan ramah setiap orang yang aku temui di kantor, dan terkadang berkata-kata sok akrab dengan karyawn lain :D Memang responnya juga bagus. Tapi waktu itu pas lagi apes, aku kirim email ke pimpinan (mau memperkenalkan diri) pake kata-kata "Halo Pak... :)" Aku berpikir, apa sh yang salah dari kata-kataku itu... dibikin puyeng sendiri... beberapa kali aku tanya ke diriku sendiri...lagi... apa sh yang salah?
Huh... yaudah deh, anggap aja salah.... kata-kata itu, aku nggak bermaksud tidak sopan atau apa. Mungkin semangatku saat itu sedang berlebih, ditambah aku inginnya sh bersikap bersahabat dengan orang. Tapi ternyata responnya lain. Ternyata pimpinan kurang suka dengan sapaan itu.... Ya emang sh nggak bilang langsung ke aku, tapi lewat orang lain. Dan untung aja itu nggak bikin aku galau berkepanjangan... :D hehe... Okedeh biarkan saja waktu berlalu... dan petik apa yang bisa dipetik (hikmahnya)

"Terlalu semangat itu juga nggak bagus... simpan saja kelebihannya... buat cadangan besok... "

Dan sekarang kasusnya ada karyawan baru... Masih belum banyak makan asam garam di dunia kerja. Semangatnya jangan di tanya. Berapi-api :D. Dan ternyata dia mengalami hal yang kurang lebih sama denganku pas kirim email... cara berkomunikasi yang 'bersahabat' atau  'gaul dikit' pake moticon2 juga... bisa jadi dianggap kurang sopan. Yah... yaampun ya... XD Tapi kita sudah tahu rule nya sekarang... jadi ikuti aja.

"Bersikaplah sopan dengan atasan... bawahan... (samping kanan atau kiri...) meskipun harus dengan cara yang berbeda"

Friday, January 4, 2013

Biarlah Orang Berkata Apa...

Dalam sebuah riwayat menceritakan, pada suatu hari Luqman Hakim telah masuk ke dalam pasar dengan menaiki seekor himar/keledai, manakala anaknya mengikut dari belakang. Melihat tingkah laku Luqman itu, setengah orang pun berkata, 'Lihat itu orang tua yang tidak bertimbang rasa, sedangkan anaknya dibiarkan berjalan kaki."
Setelah mendengarkan desas-desus dari orang ramai maka Luqman pun turun dari himarnya itu lalu diletakkan anaknya di atas himar itu. Melihat yang demikian, maka orang di pasar itu berkata pula, "Lihat orang tuanya berjalan kaki sedangkan anaknya sedap menaiki himar itu, sungguh kurang adab anak itu."

Sebaik sahaja mendengar kata-kata itu, Luqman pun terus naik ke atas belakang himar itu bersama-sama dengan anaknya. Kemudian orang ramai pula berkata lagi, "Lihat itu dua orang menaiki seekor himar, adalah sungguh menyiksakan himar itu."
Oleh kerana tidak suka mendengar percakapan orang, maka Luqman dan anaknya turun dari himar itu, kemudian terdengar lagi suara orang berkata, "Dua orang berjalan kaki, sedangkan himar itu tidak dikenderai."

Dalam perjalanan mereka pulang ke rumah, Luqman Hakim telah menasihatai anaknya tentang sikap manusia dan telatah mereka, katanya,

"Sesungguhnya tiada terlepas seseorang itu dari percakapan manusia. Maka orang yang berakal tiadalah dia mengambil pertimbangan melainkan hanya kepada Allah S.W.T.  Barang siapa mengenal kebenaran, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam tiap-tiap satu."
(Tuntutlah ilmu untuk mencari kebenaran itu... kebenaran itu... jalan yang lurus...)

Kemudian Luqman Hakim berpesan kepada anaknya, katanya,
"Wahai anakku, tuntutlah rezeki yang halal supaya kamu tidak menjadi fakir. Sesungguhnya tiadalah orang fakir itu melainkan tertimpa kepadanya tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman) tentang agamanya, lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdayai orang) dan hilang kemuliaan hatinya (keperibadiannya), dan lebih celaka lagi daripada tiga perkara itu ialah orang-orang yang suka merendah-rendahkan dan meringan-ringankannya."


Wednesday, January 2, 2013

Kalahkan Nafsu...

Dalam sebuah kitab karangan 'Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syaakir Alkhaubawiyi, seorang ulama yang hidup dalam abad ke XIII Hijrah, menerangkan bahwa sesungguhnya Allah S.W.T telah menciptakan akal dan nafsu...

Allah S.W.T telah menciptakan akal, dan berfirman : "Wahai akal mengadaplah engkau." Maka akal pun mengadap kehadapan Allah S.W.T., kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal berbaliklah engkau!", lalu akal pun berbalik.Kemudian Allah S.W.T. berfirman lagi yang bermaksud : "Wahai akal! Siapakah aku?". Lalu akal pun berkata, "Engkau adalah Tuhan yang menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu yang daif dan lemah."

Lalu Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Wahai akal tidak Ku-ciptakan makhluk yang lebih mulia daripada engkau."

Setelah itu Allah S.W.T menciptakan nafsu, dan berfirman kepadanya yang bermaksud : "Wahai nafsu, mengadaplah kamu!". Nafsu tidak menjawab sebaliknya mendiamkan diri. Kemudian Allah S.W.T berfirman lagi yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku, dan Engkau adalah Engkau."
Setelah itu Allah S.W.T menyiksanya dengan neraka jahim selama 100 tahun, dan kemudian mengeluarkannya. Kemudian Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Lalu nafsu berkata, "Aku adalah aku dan Engkau adalah Engkau."

Lalu Allah S.W.T menyiksa nafsu itu dalam neraka Juu' selama 100 tahun. Setelah dikeluarkan maka Allah S.W.T berfirman yang bermaksud : "Siapakah engkau dan siapakah Aku?". Akhirnya nafsu mengakui dengan berkata, " Aku adalah hamba-Mu dan Kamu adalah tuhanku."

Dalam kitab tersebut juga diterangkan bahwa dengan sebab itulah maka Allah S.W.T memberikan perintah puasa agar nafsu bisa kita kendalikan.

Siapa yang memenuhi ajakan iblis (meninggalkan agama), maka hilang agama dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan jiwa (maksiat), maka hilang darinya nilai nyawanya. Siapa yang memenuhi ajakan nafsunya (syahwat), maka hilanglah akal dari dirinya. Siapa yang memenuhi ajakan dunia, maka hilang akhirat dari dirinya. Dan siapa yang memenuhi ajakan anggota tubuhnya, maka hilang syurga dari dirinya.
Dan siapa yang memenuhi ajakan Allah S.W.T., maka hilang dari dirinya semua kejahatan dan ia memperolehi semua kebaikan."

- jagalah makanmu dari yang haram
- jagalah pandangan matamu (syahwat biologis)
- jagalah diri dari rasa malas/ngantukan
- jagalah bicaramu...

"Ya Alloh... tolonglah hamba dalam menjaga diri ini... Allohumma Ajirna Minannarr, Amin..."

Friday, July 29, 2011

Cantik karena Rendah Hati

Sebelum aku lanjutkan menulis, aku ingin bertanya... kepada kamu yang membaca sampai ujung kata-kataku ini.
Menurut pendapatmu, kamu cantik/cakep nggah sh? :) Ya ya aku percaya.

Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Harus disyukuri, bersyukurlah kita memiliki kekurangan karena kita akan sadar dan tetap rendah hati. Dan rendah hati adalah nilai plus dimata Tuhan dan orang lain.

Aku pernah bertanya pada seorang teman tentang pendapatnya tentang diriku. Katanya sih, aku ini...
LUCU...
IMUT...
MANIS,n PINTER TAPI SAYANG NGGAK ADA YANG TAU HEHEHE

Ya udahlah, emang kok nggak ada yang tau :))
###
Ada cerita tentang seorang GADIS yang RENDAH HATI. Judulnya...

KESADARAN DIRI

Yang Zi, tinggal di sebuah penginapan yang memiliki 2 orang pelayan. Pemilik penginapan kelihatannya lebih menyukai yang berwajah biasa daripada yang cantik. Yang Zi menanyakan mengapa pemilik penginapan itu lebih menyukai yang berwajah biasa saja. Pemilik penginapan menjawab, "Yang cantik sangat bangga kepada dirinya sendiri, karena dia selalu berpikir bahwa dirinya cantik. Tetapi saya tidak tertarik pada penampilannya. Yang berwajah biasa sadar akan penampilannya, sehingga selalu rendah hati dan lembut, maka saya tidak memperhatikan penampilannya."

"Ingatlah hal ini," kata Yang Zi kepada muridnya
"berbuatlah mulia tapi jangan berpikir bahwa kamu melakukan hal yang mulia, dan kamu akan disambut baik dimana-mana."

Tetaplah bersikap rendah hati, karena selalu ada kelebihan dan kekurangan...

Berkah atau Musibah?

Sebuah cerita berjudul,
KUDA YANG HILANG

Seorang pria tinggal dengan ayahnya di bagian utara China. Suatu hari, kudanya melarikan diri ke tempat para nomaden di seberang perbatasan. Para tetangganya datang untuk menyatakan rasa simpati.
 "Bagaimana kalian mengetahui bahwa ini bukan suatu berkah?" kata sang ayah.

Beberapa bulan kemudian, kudanya kembali dengan membawa seekor kuda nomaden yang sangat bagus. Teman teman dan tetangga datang untuk mengagumi kuda itu dan memberinya selamat.
"Apa yang membuat kalian berpikir bahwa ini bukan bencana?" tanya sang ayah.

Anaknya sangat menginginkan kuda itu. Beberapa hari kemudian kakinya patah ketika sedang mengendarainya. Setiap orang datang untuk menyatakan rasa prihatin.
"Bagaimana kalian tau ini adalah sesuatu yang buruk?" tanya ayahnya lagi.

Sebulan kemudian, para nomaden menduduki China, dan setiap orang pria yang sehat diwajibkan untuk berperang. China kehilangan 9 dari 10 pria yang dikirim dlaam konflik diperbatasan. Anak itu tidak ikut berperang karena kondisi kakinya.

Keberuntungan dapat menjadi bencana, dan bencana dapat berubah menjadi keberuntungan...

Wednesday, July 27, 2011

Ayah yang Adil

Hey,
Udah pernah tau cerita ini belum? Ini cerita tentang seorang Ayah yang adil.
Berlakulah seperti kamu akan diperlakukan...
###
Seorang pria mempunyai sebidang tanah yang ingin ia wariskan kepada kedua anak lelakinya. Tetapi, kedua anak itu masing-masing ingin menginginkan bagian yang lebih besar daripada yang lain.

Untuk membuat mereka berdua senang, ayah itu berkata kepada mereka"
"Salah seorang dari kamu akan membagi tanah ini menjadi dua bagian, dan yang lain mempunyai hak untuk memilih pertama."

Anak yang ditunjuk untuk membagi tanah itu berusaha dengan sebaik mungkin untuk membagi tanah itu menjadi 2 bagian yang sama besar. Bagaimanapun kerasnya anak yang laen berusaha, bagiannya tidak akan lebih besar daripada milik saudaranya. Akhirnya kedua anak lelaki itu puas, dan begitu pula ayah mereka.

###
Itu tadi ceritanya, semoga kalian senang ya membacanya...

Thursday, July 14, 2011

Dapatkah Nasib Diubah?

Ada sebuah cerita...

Seorang jenderal memimpin pasukan untuk mempertahankan negaranya dari serangan musuh. Tetapi semangat pasukannya sangat rendah karena jumlah mereka kalah jauh dibandingkan dengan pasukan musuh.

Dalam perjalanan menuju medan perang, sang jenderal berhenti di sebuah kuil. "Saya akan mencari petunjuk dari dewa-dewa di kuil," katanya kepada prajuritnya.
"Saya akan melempar sebuah koin. Kalau hasilnya gambar kita menang, kalau yang keluar angka kita kalah. Hasil pertempuran ini di tangan nasib."

Saat berlutut dihadapan dewa kuil, dia berdoa dengan khususnya, kemudian ia melempar sebuah koin ke udara. Kling.... Hasilnya... Gambar!!

Seketika semangat pasukannya langsung bangkit. Mereka berperang dengan gagah berani dan menghancurkan musuhnya.

"Tak seorangpun dapat mengubah nasib. Itu adalah kehendak surga."kata Letnan Jenderal

"Tak seorangpun dapat mengubah nasib,"kata Jenderal setuju, mengeluarkan koin yang digunakannya untuk memprediksi kemenangan mereka. Kedua sisi koin tersebut adalah gambar.

Keyakinan yang ada dalam diri kita adalah kekuatan dan semangat untuk menang. Dengan iman yang kuat dan fokus dalam melakukan sesuatu insyaAlloh tujuan dapat tercapai.Yakinlah bahwa "Aku pasti menang!" Menang dalam arti yang luas adalah kemenangan dengan berjiwa besar yang akan tetap menang meskipun banyak orang bilang kalah. Menang sebagai pemenang atau tetap menang dengan menerima kekalahannya.

Wednesday, July 13, 2011

Ibu yang Menenangkan Anaknya

Selamat siang teman-teman. Ini ada cerita lagi. Tentang seorang ibu yang menenangkan perasaan anaknya.

Kebaikan akan mengalahkan nasib buruk. Maksud baik yang dilakukan secara rahasia pasti akan dihargai
Itu adalah perkataan seorang ibu ketika menenangkan anaknya yang baru saja melihat ular berkepala dua.

Ceritanya begini...

Ketika Sun Shu-ao masih kecil, pada suatu hari ia melihat ular berkepala dua. Dia membunuhnya, menggali sebuah lubang di halaman dan menguburnya. Kemudian ia pulang kerumah dan menangis.
"Ibu, saya mungkin tidak akan bersama ibu untuk waktu yang lama," kata anak itu kepada ibunya. "Saya mendengar bahwa siapapun yang melihat ular berkepala dua tidak akan hidup lama. Saya melihatnya dalam perjalanan pulang ke rumah," kata anak itu.

   "Dimana ular itu?" tanya ibu.
   "Saya membunuhnya. Saya harus menggali lubang dan menguburnya. Saya tidak ingin orang lain melihatnya lalu pulang ke rumah dan mati juga."
   "Anak baik!Kamu melakukan hal yang bagus. Kamu tidak akan mati, karena kamu mempunyai hati yang baik. Kebaikan akan mengalahkan nasib buruk. Maksud baik yang dilakukan secara rahasia pasti akan dihargai. Saya yakin Tuhan akan menjagamu. Masa depan yang cerah ada di hadapanmu."

Sungguh senangnya ketika ada seseorang menenangkan hati disaat perasaan kita sedang gusar. Seperti Ibu dalam cerita tersebut yang berusaha membuat anaknya tetap tenang.


Peringatan seorang ibu janganlah diabaikan karena sedikit sekali orang yang mengenal seseorang lebih baik daripada orang tuanya sendiri.


dikutip dari Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik

Orang-orangan Sawah

Cerita ini aku dapat dari buku Kisah-kisah kebijaksanaan China klasik judulnya Orang-Orangan Sawah. Inti dari cerita ini adalah... bahwa pengalaman itu tidak selalu menjadi guru yang terbaik. Oopst, apa iya...? Maksud aku, mereka yang hanya mengandalkan pengalaman tanpa mengkaji pengalaman tersebut bisa jadi akan celaka. Seperti cerita berikut ini... OK, listen please,,,, :-)

###
Pemilik kolam ikan terganggu oleh burung air yang memakan ikannya. Ditengah-tengah kolam dia menempatkan orang-orangan sawah, ditutupi dengan jas hujan yang terbuat dari jerami dan dengan topi dari bambu yang besar.

Pada awalnya, semua burung terbang menjauh karena ketakutan. Untuk waktu yang cukup lama mereka (burung-burung itu) tidak berani turun ke kolam. Tetapi setelah mengamati dengan cermat bentuk orang-orangan itu, mereka mulai memakan ikan seperti biasa. Kadang-kadang bahkan mereka hinggap di orang-orangan sawah itu untuk beristirahat setelah makan ikan.

Melihat hal itu, tentu saja pemilik kolam menjadi geram. Akhirnya pemilik kolam itu menyingkirkan orang-orangan sawahnya dan berdiri sendiri menggantikan orang-orangan sawahnya dengan mengenakan jas hujan dan topi bambu persis seperti orang-orangan itu. 

Ketika burung itu datang ke kolam, dia menangkap beberapa dari mereka di tangannya. Karena tidak menyangka akan tertangkap, burung-burung itu hanya bisa mengepakkan sayapnya dengan sia-sia.

###
Begitulah ceritanya...
Burung-burung itu tdak menyangka kalau ternyata orang-orangan sawah itu sudah digantikan perannya oleh pemilik kolam. Mereka hanya mengandalkan pengalaman masa lalu yang membahayakan diri mereka sendiri.

Wednesday, June 29, 2011

Tiga Orang Artist

Asslmualaikum teman-teman. Ini ada cerita tentang seni menyanjung yang aku kutip dari buku yang berjudul Kisah-kisah kebijaksanaan China klasik. Simak yuk...

Judulnya...
Tiga Orang Artist
Ada seorang raja yang mata kanannya buta dan kaki kirinya pincang. Pada suatu hari dia memanggil artist untuk melukis dirinya.

Sang artis melukis raja seperti seorang pejuang yang hebat. Matanya bercahaya dan bersinar, kakinya berotot seperti atlet. Namun raja tidak senang dengan karyanya.
"Kamu pembohong, ini bukan saya." Dia memerintahkan para tentaranya untuk menangkap artist ini dan melemparkannya ke dalam penjara.

Artist kedua dipanggil. Setelah mengetahui apa yang terjadi sebelumnya, artist ini melukis sang raja persis seperti apa adanya. Namun raja juga tidak senang.
"Seni macam apa ini?" Raja bertanya kepada artist itu dengan marahnya dan menginginkan dia penjara juga.

Artis ketiga datang dan melihat raja dengan seksama. Dalam lukisannya, raja digambarkan sedang mengenakan pakaian berburu. Dia sedang menembak dengan posisi berlutut, kaki kanannya ditekuk dan kaki kirinya menopang pangkal senapan yang sedang dipegangnya. Hanya mata kirinya yang terbuka, karena ia sedang membidik seekor serigala di kejauhan.

Raja sangat puas. Dia menghargai artist itu sekantong emas da memujinya sebagai artist teraik di negaranya.
Silakan berkomentar ya...

Thursday, March 25, 2010

Raja Kin

Sore itu aku hanya duduk santai di rumah. Untuk sekedar memecah kesunyian (emang sunyi bisa ya, dipecah???)  aku setel radioku. Waktu itu ada acara dongeng, mau tau seperti apa dongengnya… judulnya raja Kin.

Dahulu kala…

Di suatu kerajaan, ada seorang raja yang sedang naik tahta, namanya raja Kin. Ayah dan ibunda raja tersebut telah tiada sehingga raja Kin hanya tinggal bersama para pamong kerajaan yang sangat patuh dengannya. Seluruh rakyat sangat mematuhi perintah raja dan sangat berbakti kepadanya. Saking taatnya, sampai-sampai apapun yang diperintahkan raja… rakyatnya selalu mengiyakan dan mematuhinya, meskipun mereka sebenernya tahu tidak semua yang dikatakan sang raja benar. Akan tetapi mereka takut untuk mengatakan tidak atau menolak permintaan raja.
Suatu ketika raja Kin meminta pendapat kepada para mentri kerajaan tentang pakaian yang dikenakannya. Raja Kin memakai baju tanpa lengan dan celana setinggi lutut (red :gojak-gajek). “Bagaimana penampilanku hari ini?” tanya raja Kin. “Bagus… bagus paduka… saya juga akan memakai pakaian seperti itu paduka raja” jawab orang-orang yang berada di istana kerajaan itu.
Raja Kin tahu kalau semua orang yang berada di istana kerajaan itu hanyalah pura-pura memujinya. “Kenapa orang-orang mengatakan pakaian ini bagus, bukankah ini pakaian yang tidak pantas dipakai” gumam sang raja dalam hati. Dalam hati raja Kin merasa sedih akan ketidak jujuran rakyatnya. Namun raja membiarkan perasaannya itu…

Suatu hari raja Kin hendak melihat-lihat suasana diluar kerajaan bersama dengan pengawalnya. Di halaman istana, pengawal sudah terlihat siap dengan kuda dan segala perlengkapannya. “Pengawal, bagaimana semua sudah siap??” begitu kata raja. “Sudah baginda raja…” jawab pengawal.  “Apa kuda ini dapat berlari dengan cepat? keledai lari lebih cepat dibanding kuda bukan? ” tanya sang raja. (Sebenarnya sang raja tentu saja sudah tau kalau lari kuda lebih cepat daripada keledai, raja Kin hanya ingin mendengar pendapat pengawal itu (red: nge-tes). “Oh iya, kalau begitu saya akan menggantinya dengan keledai baginda raja” jawab pengawal. Lalu pengawal mengganti kuda dengan keledai dan mereka mulai berangkat. Mereka berdua sama-sama tau kalau mengendarai keledai tak lebih baik daripada kuda, tetapi mereka hanya saling diam. Raja Kin menghela nafas panjang, “Hehhhhhhhhhhh…” “Kenapa semua orang selalu mengiyakan semua ucapanku???” Katanya dalam hati.

Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berhenti di sebuah warung untuk sekedar beristirahat dan berhenti makan.  Orang-orang yang berada di warung tersebut lalu memberi hormat kepada raja Kin dan mempersilakan untuk memilih tempat duduk yang diinginkan. Setelah sementara waktu sang raja menikmati hidangan, pemilik warung itu mendekati raja Kin dan mengeluhkan kejadian yang baru saja dia alami dalam waktu dekat.
” Baginda raja, belum lama ini warung kami dirampok oleh orang dari desa sebelah, mohon paduka raja menghukum perampok itu” kata pemilik warung.
“Oh… begitu ya… (hmmmm cukup lama terdiam)”.
***

Wednesday, March 24, 2010

Tentang “Wortel, Telur dan Biji Kopi”

Temen-temen... udah pernah denger cerita (analogi) tentang “Wortel, Telur dan Biji Kopi” belom?? Cerita ini pertama kali aku dengar dari Workshop KHA pada bulan Maret 2010. Cerita yang dapat memberikan inspirasi bagi kita dalam menghadapi masalah di kehidupan sehari-hari atau di pekerjaan kita. Let’s see...

Ada 3 panci  berisi air, masing-masing panci I diisi dengan wortel, panci II diisi dengan telor, dan panci yang terakhir diisi dengan biji kopi yang telah dihaluskan. Ketiga panci yang telah terisi dengan bahan-bahan yang berbeda tersebut lalu dimasak (dipanaskan) selama 15 menit.... eh eh ini mau cerita atau masak sh... Iya... analogi ceritanya memang begini. Yuk simak lagi... Setelah dimasak selama 15 menit lalu perhatikan perubahan yang terjadi pada bahan-bahan tadi.

Wortel, yang dulunya segar dan keras( sebelum dipanaskan) sekarang berubah menjadi lunak,

Telur, yang sebelumnya lunak setelah dipanaskan berubah menjadi keras... sedangkan,

Biji kopi sudah menghilang, tetapi air panas telah berubah warna dan berbau kopi yang harum.

Sebuah Perumpamaan...
Air yang mendidih bagaikan masalah yang kita hadapi dalam pekerjaan (kehidupan sehari-hari). Pekerjaan itu tidak akan selamanya nyaman, terkadang rasa jenuh itu ada. Keadaan dan kondisi dalam pekerjaan yang mungkin tidak kita inginkan, mendapatkan hasil yang kurang memuaskan, perlakuan orang-orang yang tidak baik kepada kita... apapun yang tidak kita inginkan mungkin saja terjadi dalam kehidupan ini.

Lalu...
Apakah kita ingin menjadi seperti wortel?
Kita maju dengan kuat dan tegas tetapi setelah menghadapi masalah, kita menjadi lemah dan lunak... kehilangan harapan dan menyerah....

Apakah kita ingin menjadi seperti telur?
Kita memulai dengan hati yang tulus dan sensitif namun saat masalah datang, menjadi egois dan cuek. Kita membenci diri kita sendiri, menutup diri atau bahkan membenci orang-orang disekitar kita.

Apakah kita ingin seperti bubuk kopi?
Air tidak mengubah bubuk kopi, bubuk kopilah yang mengubah air. Lihatlah... ciumlah baunya  dan minumlah saat hangat-hangat... (jangan lupa dikasih gula secukupnya ;) )

Sebuah pelajaran...
Dalam menghadapi masalah jadilah seperti bubuk kopi, yang dapat membuat sesuatu yang baik dari tantangan yang sedang dihadapi. Hadapilah masalah dengan optimis dan jangan menambah masalah dengan marah ataupun bersikap egois dengan menyalahkan orang lain.  Dengan masalah kita dapat belajar hal-hal baru, ilmu baru, skill baru, dan pengalaman kita akan bertambah. Masalah ataupun kesulitan akan memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi lebih kuat... bersikap lebih dewasa dan lebih baik lagi. Kuncinya tetap sabar dan semangat dalam menghadapi segala problema yang ada...