Friday, April 29, 2011

mensyukuri hidup

hidup tak selamanya berjalan mulus
butuh batu kerikil supaya kita berhati-hati
butuh semak berduri supaya kita waspada
butuh persimpangan supaya kita bijaksana dalam memilih
butuh petunjuk jalan supaya kita punya harapan tentang arah masa depan

hidup butuh masalah supaya kita tahu kita punya kekuatan
butuh pengorbanan supaya kita tahu cara bekerja keras
butuh air mata supaya kita tahu merendahkan hati
butuh dicela supaya kita tahu bagaimana cara menghargai
butuh tertawa supaya kita tahu mengucap syukur
butuh senyum supaya kita tahu kita punya cinta
butuh orang lain supaya kita tahu kita tak sendiri

Thursday, March 25, 2010

Raja Kin

Sore itu aku hanya duduk santai di rumah. Untuk sekedar memecah kesunyian (emang sunyi bisa ya, dipecah???)  aku setel radioku. Waktu itu ada acara dongeng, mau tau seperti apa dongengnya… judulnya raja Kin.

Dahulu kala…

Di suatu kerajaan, ada seorang raja yang sedang naik tahta, namanya raja Kin. Ayah dan ibunda raja tersebut telah tiada sehingga raja Kin hanya tinggal bersama para pamong kerajaan yang sangat patuh dengannya. Seluruh rakyat sangat mematuhi perintah raja dan sangat berbakti kepadanya. Saking taatnya, sampai-sampai apapun yang diperintahkan raja… rakyatnya selalu mengiyakan dan mematuhinya, meskipun mereka sebenernya tahu tidak semua yang dikatakan sang raja benar. Akan tetapi mereka takut untuk mengatakan tidak atau menolak permintaan raja.
Suatu ketika raja Kin meminta pendapat kepada para mentri kerajaan tentang pakaian yang dikenakannya. Raja Kin memakai baju tanpa lengan dan celana setinggi lutut (red :gojak-gajek). “Bagaimana penampilanku hari ini?” tanya raja Kin. “Bagus… bagus paduka… saya juga akan memakai pakaian seperti itu paduka raja” jawab orang-orang yang berada di istana kerajaan itu.
Raja Kin tahu kalau semua orang yang berada di istana kerajaan itu hanyalah pura-pura memujinya. “Kenapa orang-orang mengatakan pakaian ini bagus, bukankah ini pakaian yang tidak pantas dipakai” gumam sang raja dalam hati. Dalam hati raja Kin merasa sedih akan ketidak jujuran rakyatnya. Namun raja membiarkan perasaannya itu…

Suatu hari raja Kin hendak melihat-lihat suasana diluar kerajaan bersama dengan pengawalnya. Di halaman istana, pengawal sudah terlihat siap dengan kuda dan segala perlengkapannya. “Pengawal, bagaimana semua sudah siap??” begitu kata raja. “Sudah baginda raja…” jawab pengawal.  “Apa kuda ini dapat berlari dengan cepat? keledai lari lebih cepat dibanding kuda bukan? ” tanya sang raja. (Sebenarnya sang raja tentu saja sudah tau kalau lari kuda lebih cepat daripada keledai, raja Kin hanya ingin mendengar pendapat pengawal itu (red: nge-tes). “Oh iya, kalau begitu saya akan menggantinya dengan keledai baginda raja” jawab pengawal. Lalu pengawal mengganti kuda dengan keledai dan mereka mulai berangkat. Mereka berdua sama-sama tau kalau mengendarai keledai tak lebih baik daripada kuda, tetapi mereka hanya saling diam. Raja Kin menghela nafas panjang, “Hehhhhhhhhhhh…” “Kenapa semua orang selalu mengiyakan semua ucapanku???” Katanya dalam hati.

Setelah beberapa lama, akhirnya mereka berhenti di sebuah warung untuk sekedar beristirahat dan berhenti makan.  Orang-orang yang berada di warung tersebut lalu memberi hormat kepada raja Kin dan mempersilakan untuk memilih tempat duduk yang diinginkan. Setelah sementara waktu sang raja menikmati hidangan, pemilik warung itu mendekati raja Kin dan mengeluhkan kejadian yang baru saja dia alami dalam waktu dekat.
Baginda raja, belum lama ini warung kami dirampok oleh orang dari desa sebelah, mohon paduka raja menghukum perampok itu” kata pemilik warung.
Oh… begitu ya… (hmmmm cukup lama terdiam)”.
***